PELATIHAN ADALAH NAFAS KEHIDUPAN PARA PROFESIONAL
- Home
- Uncategorized
- PELATIHAN ADALAH NAFAS KEHIDUPAN PARA PROFESIONAL
Oleh : Dr. Made Arya Astina
Bali, 17 Mei 2025
Mahatma Gandhi pernah berkata, “Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa belajar adalah napas panjang kehidupan.Bayangkan jika keterampilan dan pengetahuan yang kita banggakan hari ini, esok tiba-tiba tak lagi relevan, masihkah kita bisa menyebut diri sebagai seorang ahli? Itulah kenyataan dunia saat ini yang terus berubah dengan cepat, dinamis, dan tak peduli pada mereka yang berhenti belajar. Dalam dunia seperti ini, pelatihan atau training bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Pelatihan bukan sekadar agenda tahunan dari perusahaan, bukan pula formalitas untuk memenuhi kewajiban, tapi modal utama bagi mereka yang ingin bertahan dan tumbuh
Saya sering mengingatkan para peserta pelatihan, “Jangan pernah merasa puas.” Ilmu pengetahuan itu ibarat lautan luas yang tak akan habis kita jelajahi dalam sehari, dari satu buku, atau dari satu tempat saja. Dunia ini menawarkan pelajaran di mana pun kita berada, baik di dalam kelas, di tengah perbincangan santai, dari pengalaman orang lain, bahkan dari kegagalan kita sendiri. Setiap hari, ada tantangan baru yang memaksa kita untuk membuka pikiran dan merubah cara lama dalam berpikir dan bekerja. Jika kita memilih berhenti belajar, sesungguhnya kita telah membuka pintu bagi diri kita untuk tergantikan oleh mereka yang terus bergerak maju.
1. Pelatihan adalah Jalan untuk Menjadi Lebih Baik
Pelatihan itu ibarat cermin yang memantulkan sisi-sisi diri kita yang selama ini mungkin sengaja kita abaikan. Pelatihan menuntut kita untuk berusaha keras, kadang bikin bingung, kadang juga melelahkan. Namun, justru di sanalah letak kekuatannya. Pelatihan menjadi momen di mana kita berani mengakui satu hal sederhana namun krusial: bahwa masih ada ruang untuk tumbuh, bahwa kita belum selesai belajar.
Sayangnya, tidak semua orang berani menghadapi kenyataan itu. Ada yang menolak pelatihan karena merasa tidak mampu dan menganggap tidak mungkin menguasai hal baru, sementara yang lain takut dianggap kurang kompeten jika harus belajar lagi. Mereka terperangkap dalam pola pikir yang dibahas oleh Carol Dweck sebagai fixed mindset, keyakinan bahwa kemampuan tidak bisa diubah. Padahal, sejatinya kemampuan kita berkembang ketika kita membuka diri untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan berani melangkah keluar dari zona nyaman.
Padahal, growth mindset mengajarkan sebaliknya. Orang-orang hebat bukan karena mereka tidak pernah gagal, tetapi karena mereka terus belajar dari kegagalan. Mereka paham, kemampuan bisa tumbuh. Dan pelatihan adalah ladang tempat benih kemampuan itu ditanam dan disirami.
Konsep growth mindset ini diperkenalkan secara luas oleh Carol S. Dweck dalam bukunya yang berjudul “Mindset: The New Psychology of Success”. Dalam buku tersebut, Dweck menjelaskan bagaimana cara pandang terhadap kemampuan diri bisa mempengaruhi keberhasilan seseorang, baik dalam pendidikan, karier, maupun kehidupan pribadi. Mereka yang memiliki growth mindset melihat tantangan sebagai peluang belajar, bukan ancaman terhadap harga diri.
2. Pelatihan Menjadi Budaya Organisasi untuk Bertumbuh Bersama
Saya pernah memberikan pelatihan asesor kompetensi di sebuah tambang di Nusa Tenggara Barat yang sudah lama berkembang. Di sana, pelatihan bukan hanya tanggung jawab HR atau manajemen. Semua orang, mulai dari staf paling bawah hingga jajaran manajer memiliki program belajar yang berkelanjutan. Bukan karena mereka belum bisa, tapi karena mereka ingin terus berkembang dan menjadi lebih baik. Salah satu motto yang mereka pegang teguh adalah “stay hungry” yang maknanya adalah tetap lapar akan ilmu dan pengalaman.
Organisasi seperti ini memahami betul konsep learning organization yang diperkenalkan oleh Peter Senge. Bahwa hanya organisasi yang terus belajar yang mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan yang cepat. Oleh karena itu, pelatihan bukan lagi sekadar proyek, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya kerja mereka.
Mereka yang terus belajar bukan hanya meningkatkan kompetensi pribadi, tetapi juga menularkan semangat belajar itu ke dalam tim, bahkan ke komunitas luas. Mereka menjadi motor perubahan bukan karena selalu benar, melainkan karena selalu terbuka untuk menjadi lebih baik setiap hari.
3. Pelatihan adalah Cinta pada Potensi Diri
Saya percaya, mengikuti pelatihan adalah bentuk cinta kepada diri sendiri. Bukan semata-mata untuk mengejar sertifikat atau pengakuan, melainkan karena kita mengakui bahwa diri ini layak untuk tumbuh. Kita layak menjadi versi yang lebih baik dari hari kemarin. Kita layak mendapatkan bekal berupa ilmu, keterampilan, dan pemahaman baru, agar bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga berkontribusi lebih besar dalam hidup dan pekerjaan kita.
Namun, cinta semacam ini tidak berhenti di dalam diri. Ia memancar keluar. Karena saat kita bertumbuh, kita mulai berdampak. Kita menginspirasi orang-orang di sekitar kita, secara sadar maupun tidak. Kita menjadi mentor bagi yang lebih muda, rekan diskusi bagi sejawat, dan pengingat bagi mereka yang mulai letih di jalan panjang perubahan.
Satu langkah kecil dalam pelatihan bisa menjadi titik mula bagi perubahan besar di komunitas. Kita menjadi penggerak yang menyalakan semangat belajar di tempat kerja, di rumah, bahkan dalam lingkungan sosial. Dampaknya berlipat, bukan karena kita merasa paling tahu, tapi karena kita terus belajar dan berbagi. Itulah cinta yang meluas, yang tidak berhenti pada pengembangan diri, tetapi ikut menumbuhkan orang lain.
Jangan biarkan keahlian hari ini membuat Anda berhenti belajar, karena justru keyakinan bahwa kita sudah cukup tahu sering menjadi penghalang terbesar untuk tumbuh. Dunia terus bergerak dan tidak menunggu siapa pun, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang mau terus melangkah dan belajar. Di tengah perubahan yang cepat, pelatihan bukan sekadar penting, tapi pelatihan adalah satu-satunya jalan untuk menjadikan Anda tetap relevan.
Referensi:
- Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
- Senge, P. M. (1990). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. Doubleday.
Tentang penulis:
Dr. Made Arya Astina adalah seorang Competency Development Specialist dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi. Ia percaya bahwa kompetensi bukan sekadar tahu, tapi mampu melakukan, beradaptasi, dan terus berkembang. Ia aktif mendampingi individu, baik peserta didik maupun pengajar, serta institusi dalam menjembatani teori dengan praktik, serta mencetak profesional yang siap berinovasi dan memimpin perubahan. Melalui tulisan-tulisannya, ia terus menginspirasi kemajuan dan mendorong lahirnya cara berpikir yang lebih adaptif dan berdampak.